Kamis, 20 Agustus 2015

Ikhtiar

Hari Sabtu malam tanggal 7 Desember 1991, Silaturahmi Kerja Nasional, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) ditutup. Tepat setahun setelah dibentuk di Malang awal Desember 1990 yang lalu, organisasi para cendekiawan Muslim se-Indonesia ini selesai melakukan konsolidasi organisasinya. Dalam tempo setahun, jaringan organisasi wilayah yang terbesar di semua propinsi, organisasi satuan di banyak kabupaten dan kotamadya, juga universitas dan kelompok pengajian telah terbentuk. Bahkan beberapa di luar negeri. Hampir semua organisasi wilayah di propinsi dan organisasi satuan di luar negeri itu pembentukan dan pelantikan pengurusnya dihadiri oleh fungsionaris ICMI pusat.

Di samping membesarkan hati para pendukung dan anggotanya, kesigapan ICMI itu juga membuat galau sementara pihak yang lain. Sambutan dengan aneka perasaan itu ada hikmahnya. Umat Islam ternyata siap untuk berbeda pendapat, terbukti ada yang ikut atau menyambut positif, ada pula yang tidak ikut atau menyambut dengan nada negatif. Semua bisa diekspresikan insya Allah tanpa perasaan dimusuhi atau memusuhi. Ternyata tata nilai di masyarakat kita mengakomodasikan adanya perbedaan pendapat. Kita makin bisa belajar berdemokrasi dalam iklim keragaman dan perbedaan pendapat yang pengutaraannya tidak selalu perlu dengan kesedihan dan kegetiran.

Teman saya, Umar Kayam dengan santai menyatakan dissent-nya pada ICMI dengan mengatakan secara santai: "Kami kan boleh juga membentuk Ikatan Cendekiawan Abangan to Cip?" Pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Tetapi saya paham akan esensi dissent-nya. Teman yang lain dengan serius mengingatkan ada bahaya sektarianisme dan primordialisme sebagai implikasi pembentukan organisasi semacam itu. Hal ini ditangkis bukan dengan konter retorika tetapi melalui ikhtiar. Karena kekhawatiran itu tidak beralasan, kalau eksponen kebangsaan bersikap toleran saling mengakomodasi, serta memelihara harmoni kehidupan bermasyarakat majemuk.

Alhamdulillah, dalam amanat Presiden yang dibacakan ketua umum ICMI B.J. Habibie, tatkala pembukaan Silaknas ke-1 ICMI pada Kamis lalu, masalah itu digarisbawahi. Bahkan dalam sidang kunci membuka sidang pleno kerja silaturahmi itu, Prof. Sumitro Djojohadikusumo menggarisbawahi tradisi toleransi umat Islam. Seingat beliau tradisi toleransi itu merupakan ciri sikap cendekiawan Muslim dari dulu. Memang, pada tahun 1950-an, Prof. Kahar Muzakir dan K.H. Fahrudin masing-masing sebagai rektor dan dewan penyantun Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta meminta Sumitro membantu mendirikan fakultas ekonomi di universitas itu. Tatkala Pak Mitro membawa Dr. Opposungu dan seorang warga negara keturunan Belanda, yang keduanya bukan beragama Islam untuk mengajar, civitas academica UII sama sekali tidak berkeberatan.

Memang, catatan reservasi mengenai pembentukan dan kegiatan ICMI tadi lebih patut diterima sebagai ikhtiar saling mengingatkan. Tanpa hendak mengelabui realitas, siapa pun tahu warna dan sikap toleransi serta wawasan kebangsaan tokoh-tokoh seperti B.J. Habibie, Emil Salim, Rudini, Nurcholish Madjid, Dawam Rahardjo, Muslimin Nasution, Adi Sasono, Amien Rais, Amin Azis, Ahmad Titosudiro, Kiai Ali Yafie, dan lain-lain untuk menyebut beberapa nama saja.

Kalau ada kegalauan yang masih tersisa dalam benak beberapa anggota ICMI memprihatinkan keadaan dan kondisi kehidupan dan peran umat Islam dalam discourse kebangsaan, itu fenomena wajar; seperti juga wajarnya kegalauan yang sebaliknya ada, baik sebelum maupun sesudah terbentuknya ICMI. Suatu fenomena demokratis, ketulusan dan keterusterangan mengutarakan kepedulian dan mengemukakan perasaan. Kemampuan umat Islam dalam menghadapi kancah perjuangan nyata dalam kehidupan ekonomi, sosial, dan kebangsaan memang menjadi acuan ICMI untuk melaksanakan program tunggalnya; yaitu meningkatkan kualitas hidup, kualitas kerja, kualitas berpikir, dan kualitas karya rakyat Indonesia umumnya dan umat Islam khususnya.

Suasana Silaknas ke-1 ini mencerminkan kegairahan cendekiawan Muslim untuk berhimpun. Memang, sahabat saya yang lain, ada yang mengingatkan, kiranya gegap-gempita ala Silaknas ini tidak hanya eksplorasi dari majelis taklim ala gedongan. Alhamdulillah, kerisauan teman saya tadi tidak menghantui melainkan meningkatkan kesungguhan kerja ICMI. Dalam sidang-sidang Silaknas itu, kehendak untuk berhimpun dan merasa hangat dalam pelukan ukhuwah Islamiyah juga diimbangi dengan ikhtiar konkret mengatasi kemandegan. Ada dialog pembinaan golongan ekonomi lemah, mengaitkan keberdayaan mereka dengan potensi ekonomi umat yang sudah lebih dahulu kuat. Ada ikhtiar untuk menyingkirkan hambatan struktural yang dihadapi umat guna menempuh mobilitas vertikal sumber daya manusianya. Ada tukar pikiran tentang peningkatan efektivitas kinerja atau performance kelembagaan Islam. Ada imbauan untuk menyambut ikhtiar konkret Bank Muamalat Indonesia.

Kita bersyukur, kata kunci dalam Silaknas ini adalah ikhtiar.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar